
Santri dan Tantangan Zaman; Dari Kitab ke Skill Digital
- Categories Kolom
- Date 26 October 2025
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri. Momentum ini bukan sekadar seremoni atau nostalgia perjuangan para kiai dan santri di masa lalu, tetapi juga ajakan untuk merefleksikan peran santri di masa kini dan masa depan. Santri bukan hanya sosok yang tekun mengaji kitab kuning, melantunkan wirid, dan menimba ilmu agama. Lebih dari itu, santri adalah cerminan dari kekuatan spiritual bangsa, benteng moral, sekaligus agen perubahan sosial yang siap menjawab tantangan zaman.
Namun, ada satu hal yang perlu kita garis bawahi, santri jangan hanya mengerti agama. Pengetahuan agama adalah pondasi, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Pondasi yang kuat memang syarat utama, sebab tanpa dasar keimanan dan akhlak yang kokoh, segala skill duniawi mudah goyah. Tapi setelah pondasi itu terbangun, santri harus menambahkan bata demi bata berupa berbagai keterampilan hidup agar bisa berkarya dan memberi kemanfaatan lebih luas kepada umat.
Dari Mengajar ke Manajemen
Saya pernah berpikir bahwa satu-satunya skill yang utama bagi santri untuk berkontribusi kepada umat adalah kemampuan mengajar. Karena guru dan dosen adalah jembatan pengetahuan. Mereka menyebarkan ilmu yang menuntun umat kepada kebenaran, membentuk karakter, dan melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia. Maka tak heran, banyak alumni pesantren menempuh jalur pendidikan dan menjadi pengajar. Itu pula yang saya jalani sekarang, yaitu menjadi dosen di Universitas Kiai Abdullah Faqih (Unkafa) Gresik. Saya memandang profesi ini sebagai buah dari pemikiran awal saya bahwa mengajar adalah bentuk pengabdian paling nyata.
Namun, seiring waktu dan pengalaman, saya mulai melihat bahwa kontribusi santri kepada umat tidak hanya lewat ruang kelas. Saat juga saya berkhidmah di LAZNAS Nurul Hayat Surabaya, saya belajar tentang pentingnya skill manajemen. Ternyata, kemampuan untuk mengatur waktu, sumber daya manusia, dan keuangan dengan efektif dan efisien adalah keterampilan yang tak kalah penting. Banyak gagasan mulia berhenti di tengah jalan hanya karena kurang terkelola. Di sinilah saya menyadari, manajemen bukan sekadar urusan bisnis, tapi juga seni mengorganisasi niat baik agar benar-benar sampai pada hasil yang nyata.
Skill manajemen mengajarkan bahwa amal saleh perlu strategi. Pengabdian tanpa perencanaan bisa kehilangan arah, sementara niat yang tulus akan lebih berdampak bila didukung kemampuan mengatur dan memimpin. Dalam konteks dakwah dan kerja sosial, kemampuan ini bisa menjadi kunci keberhasilan.
Dari Masjid ke Dunia Digital
Fase berikutnya dalam perjalanan saya datang saat bergabung dengan komunitas Sahabat Masjid Indonesia (SMI). Di sana, saya bertemu banyak pegiat dakwah yang ternyata berlatar belakang pengusaha dan praktisi digital marketing. Dari mereka, saya belajar bahwa dunia dakwah hari ini tidak cukup hanya dilakukan lewat mimbar dan majelis taklim. Dunia maya telah menjadi “masjid” baru tempat orang mencari ilmu, inspirasi, bahkan arah hidup.
Kemampuan digital marketing membuka ruang bagi siapa pun untuk berdakwah dan berkontribusi tanpa batas. Seorang santri yang mampu membuat konten edukatif, mengelola media sosial, atau membangun bisnis berbasis syariah dengan sentuhan digital, bisa menjangkau ribuan orang hanya dari layar laptopnya. Lebih dari itu, banyak di antara para pengusaha digital ini memiliki waktu luang yang cukup untuk berkhidmah di masjid, karena kondisi ekonomi mereka relatif mapan. Saya kemudian menyimpulkan bahwa santri dengan skill ekonomi dan digital yang kuat akan lebih mudah menjaga idealismenya. Mereka bisa berdakwah tanpa harus tergantung pada pihak lain.
Inilah wajah baru santri abad ke-21, tidak hanya berpeci dan bersarung, tapi juga akrab dengan laptop, kamera, dan algoritma media sosial. Bukan berarti meninggalkan tradisi pesantren, tetapi “memperluas medan perjuangan” dengan cara-cara baru yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Pesantren sebagai Pusat Peradaban Baru
Pesantren hari ini memiliki peluang besar untuk menjadi pusat peradaban baru. Di dalamnya ada sumber daya manusia yang luar biasa; Para kiai dengan kebijaksanaan spiritualnya, santri dengan semangat belajarnya, dan jaringan alumni yang tersebar di berbagai bidang. Namun, potensi ini hanya akan menjadi kekuatan nyata jika dikombinasikan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa tantangan umat semakin kompleks. Isu ekonomi syariah, perubahan iklim, disrupsi digital, bahkan kecerdasan buatan, semuanya membutuhkan pandangan etis dan nilai-nilai spiritual yang kuat. Di sinilah santri bisa tampil: menjadi jembatan antara ilmu agama dan kemajuan zaman. Santri bisa menjadi ekonom syariah, peneliti etika teknologi, ahli komunikasi publik atau bahkan filosof modern yang tetap bersujud di sepertiga malam terakhir.
Santri dan Spirit Kemandirian
Kemandirian adalah salah satu nilai utama yang diajarkan di pesantren. Santri terbiasa hidup sederhana, mandiri, dan pantang menyerah. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan semangat enterpreneurship. Menjadi pengusaha bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi tentang melatih diri menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, dan bermanfaat. Rasulullah SAW sendiri adalah pedagang yang sukses, dan banyak sahabat besar adalah wirausahawan yang dermawan. Maka sudah seharusnya santri tidak alergi terhadap dunia bisnis, selama nilai-nilainya dijaga.
Pada akhirnya, santri adalah simbol kekuatan spiritual yang dibangun di pesantren. Tapi kekuatan itu tidak boleh berhenti di sajadah dan kitab kuning. Ia harus memancar menjadi energi yang menggerakkan perubahan. Santri harus berani memperluas diri. Dari pengajar menjadi manajer, dari aktivis menjadi kreator digital, dari penghafal Al Qur’an menjadi peneliti, dari pendakwah menjadi pengusaha. Semua jalan ini sah, selama tujuannya satu, kemaslahatan umat.
Dalam konteks Hari Santri ini, mari kita renungkan, menjadi santri sejati bukan hanya tentang memahami agama, tetapi tentang menghidupkan nilai-nilai agama dalam segala bidang kehidupan. Pesantren tidak hanya melahirkan ahli fiqh, tapi juga ahli teknologi yang berakhlak; tidak hanya menghasilkan qari, tapi juga ekonom yang jujur; tidak hanya pendakwah, tapi juga pemimpin masa depan yang amanah.
Semoga dari pesantren lahir generasi santri yang bukan hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul secara intelektual, profesional, dan sosial. Karena pada akhirnya, santri sejati bukan hanya yang bisa membaca kitab, tetapi juga yang mampu menulis sejarah.
Tag:iat, ushuluddin



