
Angkat Urgensi Karakter di Era Digital, HMP PAI UNKAFA Gelar Seminar Nasional: Menakar Integritas di Tengah Arus Teknologi
Berita | UNKAFA – Di tengah gempuran disrupsi teknologi yang kian masif, persoalan karakter mahasiswa menjadi sorotan utama dalam dunia pendidikan. Menanggapi fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI) Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Menjadi Mahasiswa Berkarakter di Era Digital: Antara Prestasi, Etika, dan Masa Depan”.
Acara yang dihelat pada Selasa (27/01/2026) ini memadati ruang Darun Nadwah Rushaifah. Tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa internal UNKAFA, antusiasme juga datang dari peserta eksternal berbagai perguruan tinggi lintas daerah yang ingin mendalami korelasi antara kecakapan digital dan integritas moral.

Ketua Panitia, Sofyan Dena Kusuma, dalam sambutannya menekankan bahwa seminar ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan upaya preventif dan edukatif bagi generasi Z. Menurutnya, mahasiswa saat ini hidup di dua dunia yang berbeda namun saling beririsan: ruang fisik dan ruang digital. “Era digital membuka peluang tak terbatas bagi mahasiswa untuk mendulang prestasi global. Namun, di balik itu, ada tantangan serius berupa degradasi etika dan hilangnya jati diri karakter. Melalui seminar ini, kami ingin membekali kawan-kawan mahasiswa agar mampu menyeimbangkan antara capaian akademik yang mentereng dengan sikap moral yang luhur,” tegas Sofyan.
Puncak acara ditandai dengan pemaparan materi dari narasumber bereputasi internasional, Miftahul Huda, M.Pd., Ph.D. Beliau merupakan Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sekaligus Ketua Tanfidziyah PCINU Belgia masa khidmat 2021-2025 serta peneliti di konsorsium Grammar and Pragmatics, University of Antwerp, Belgia.

Membawa perspektif global, Miftahul Huda membedah realitas perkembangan Islam di berbagai belahan dunia, mulai dari Benua Afrika hingga Eropa. Beliau memaparkan fakta mengejutkan mengenai “Paradoks Integritas”. Berdasarkan pengamatan dan studinya, negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim seringkali masih tergolong dalam kategori dengan tingkat integritas moral atau indeks persepsi korupsi yang memprihatinkan.
Sebaliknya, di beberapa negara di mana Muslim menjadi minoritas, nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan etika sosial justru tampak lebih menonjol. “Ini menjadi otokritik bagi kita semua. Prestasi akademik harus berjalan seiring dengan etika dan karakter. Teknologi sejatinya hanyalah alat (tools), sementara nilai dan integritas tetap menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta yang menyimak dengan saksama.
Dalam sesi tanya jawab yang dinamis, diskusi berkembang ke arah peran institusi pendidikan. Miftahul Huda menekankan bahwa perguruan tinggi -khususnya berbasis pesantren seperti UNKAFA- memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan moral (moral resilience).
Menyinggung soal fenomena Artificial Intelligence (AI) yang mulai mendominasi berbagai lini kehidupan, beliau memberikan pesan yang menyejukkan sekaligus membangkitkan semangat bagi para santri dan mahasiswa. Beliau menyatakan bahwa mahasiswa yang tumbuh dalam lingkungan yang menjaga tradisi keilmuan seharusnya bersyukur. “Mahasiswa dan santri saat ini sedang dilatih untuk tidak memiliki ketergantungan buta pada teknologi. Kalian dibekali ilmu alat dan kedalaman rasa untuk menghadapi tantangan masa depan. Ingatlah satu hal: meskipun AI dapat menggantikan peran manusia dalam hal teknis dan kognitif, AI tidak akan pernah bisa menggantikan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan keberkahan,” tambah beliau.
Kegiatan ditutup dengan pemberian apresiasi kepada narasumber dan sesi foto bersama. Seminar nasional ini tidak hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga memberikan kesan mendalam bagi civitas akademika UNKAFA. Melalui kegiatan ini, HMP PAI UNKAFA berharap dapat melahirkan generasi emas yang tangkas menggunakan teknologi, namun tetap teguh memegang prinsip akhlakul karimah sebagai kompas kehidupan di masa depan.




