
Algoritma Media Sosial vs Algoritma Media Pesantren
- Categories Kolom
- Date 7 July 2025
Salah satu penemuan penting dari ilmuwan muslim itu adalah algoritma. Algoritma adalah urutan dari sejumlah langkah logis dan sistematis untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Algoritma dianggap sebagai kunci dari ilmu komputer yang dipakai untuk spesifikasi guna mengolah dan menghitung suatu data. Selain itu, algoritma juga dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari yang membutuhkan serangkaian proses atau langkah-langkah prosedural. Penemu algoritma adalah Al Khawarizmi, ilmuan muslim yang mahir dalam matematika, geografi, astronomi, dan lain sebagainya.
Dalam ilmu sosial, dikenal sebuah prinsip penting: tidak ada yang kebetulan dalam perilaku sosial. Setiap tindakan manusia, pola pikir, hingga pembentukan opini masyarakat merupakan hasil dari struktur yang sistemik, baik itu melalui institusi, budaya, ekonomi, maupun teknologi. Pandangan ini sejalan dengan bagaimana kita memahami algoritma media sosial dan algoritma media pesantren, yang keduanya bekerja sebagai sistem yang membentuk dan mengarahkan perilaku individu dalam masyarakat modern maupun tradisional.
Algoritma media sosial adalah langkah sistematis dan terstruktur untuk mengolah kumpulan data melalui sebuah instruksi yang bertujuan untuk memfilter, memberi peringkat, memilih, dan merekomendasikan konten kepada user. Salah satu bentuk data tersebut adalah aktivitas-aktivitas user di media sosial , seperti hal-hal yang sering dilihat, diikuti, disukai, dan dicari. Algoritma akan membaca dan mempelajari segala aktivitas, perilaku, dan minat user di platform media sosial. Selanjutnya, algoritma mengolah dan menganalisis data tersebut untuk menghasilkan kesimpulan mengenai jenis-jenis konten yang relevan dengan user. Berdasarkan kesimpulan itu, algoritma akan menyebarkan konten-konten yang relevan kepada user tersebut. Contoh: Kamu adalah user yang suka konten dakwah di YouTube (like, comment, share, dan save) konten-konten di YouTube. Algoritma akan mempelajari aktivitas kamu tersebut. Selanjutnya, algoritma akan menyebarkan konten-konten konten dakwah ke explore YouTube-mu.
Sementara itu, Algoritma dalam konteks media pesantren lebih bersifat kultural dan spiritual. Algoritma pesantren merujuk pada metode penyampaian ilmu berbasis sanad (rantai transmisi keilmuan), adab (etika), dan pengasuhan. Tujuan utamanya bukan sekadar transfer informasi, tetapi pembentukan karakter, akhlak, dan kedalaman spiritual. Dari itu dalam dunia pesantren, algoritma memiliki makna dan pendekatan yang sangat berbeda lebih kepada sistem nilai, pola pendidikan, dan metode penyampaian ilmu.
Artikel ini bertujuan untuk membandingkan dan menganalisis dua konsep algoritma yang berkembang dalam konteks yang berbeda: algoritma media sosial yang bersifat digital yang berbasis teknologi dan kecerdasan buatan, serta algoritma media pesantren yang berbasis nilai-nilai keilmuan, tradisi, dan akhlak dan dihubungkan dengan keilmuan sosial.
- Pengertian Algoritma Media Sosial vs Media Pesantren
Media sosial : Algoritma media sosial adalah sistem matematika yang dirancang oleh platform digital (seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dsb.) untuk menentukan konten apa yang muncul di linimasa pengguna. Algoritma ini berbasis pada data interaksi: like, komentar, durasi tontonan, dan histori pencarian. Tujuan utamanya adalah mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di platform.
Media pesantren : Algoritma Media Pesantren adalah sistem penyebaran ilmu dan nilai yang didasarkan pada sanad keilmuan, adab terhadap guru, kesabaran dalam belajar (talaqqi), dan seleksi ketat terhadap sumber ilmu. Informasi tidak disampaikan secara instan, melainkan melalui proses tahapan belajar, verifikasi, dan penghayatan nilai.
- Tujuan dan Orientasi
| Aspek | Media Sosial | Media Pesantren |
| Tujuan utama | Monetisasi, keterlibatan pengguna | Transformasi moral dan intelektual |
| Kriteria konten | Viralitas, keterlibatan tinggi | Validitas keilmuan, keberkahan sanad |
| Orientasi nilai | Netral hingga bebas nilai | Agama, moral, akhlak, tradisi |
Algoritma media sosial mengejar clickbait dan interaksi, tanpa mempertimbangkan apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, atau bermoral. Sementara itu, pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus diamalkan dan dijaga dari penyimpangan nilai.
- Sumber dan Otoritas Informasi
Media sosial : Algoritma media sosial mengandalkan user-generated content tanpa filter keilmuan. Siapapun bisa menjadi "influencer", meskipun tanpa kapasitas ilmiah. Ini berisiko menimbulkan bias, hoaks, bahkan penyebaran paham radikal atau nihilistik.
Media Pesantren : Algoritma media pesantren Sebaliknya, media pesantren mengedepankan otoritas sanad dan kapasitas keilmuan guru. Seorang santri tidak diperkenankan menyampaikan ilmu sebelum matang. Hal ini menciptakan saringan alami terhadap kesalahan atau penyimpangan.
- Kecepatan vs Kedalaman
Media sosial : Algoritma media sosial mendorong konsumsi cepat dan impulsif: scroll, klik, share. Ini menciptakan budaya instan dan dangkal. Informasi bisa viral meskipun tidak mendalam atau tidak benar.
Media pesantren : Algoritma media pesantren justru menekankan proses mendalam: memahami makna, mengkaji konteks, menelusuri pendapat ulama. Kebenaran tidak ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh proses ilmiah yang panjang dan teliti.
- Dampak Sosial
| Aspek | Media Sosial | Media Pesantren |
| Efek jangka pendek | Informasi cepat, tapi bisa menimbulkan disinformasi dan kegaduhan | Lambat, tapi membentuk karakter dan pemahaman |
| Efek jangka panjang | Krisis konsentrasi, fragmentasi sosial, polarisasi | Pembentukan moralitas, keterhubungan antar generasi |
| Peran komunitas | Individualisme, follower-based | Komunal, berbasis guru-murid dan adab |
Media sosial berpotensi menumbuhkan narsisme dan egosentrisme, sedangkan media pesantren membentuk komunitas yang saling terhubung dalam semangat ukhuwah dan ta'dzim kepada ilmu dan ulama.
- Pola Distribusi Informasi
Media Sosial: Konten disebar berdasarkan popularitas, interaksi, dan relevansi algoritmik. Konten yang provokatif, sensasional, atau emosional cenderung lebih diutamakan karena bisa menciptakan keterlibatan tinggi.
Media Pesantren: Ilmu disampaikan secara bertahap, berurutan, dan penuh kesabaran. Santri tidak bisa langsung loncat ke kitab tingkat tinggi tanpa memahami dasar-dasarnya. Ini adalah algoritma kesabaran dan ketekunan.
- Tidak Ada yang Kebetulan: Semua Berbasis Struktur
Media sosial : algoritma membentuk struktur digital yang menentukan konten mana yang viral, siapa yang populer, dan opini mana yang mendapat tempat. Viralitas bukan kebetulan, tetapi hasil dari desain sistem yang mengejar perhatian.
Media Pesantren : di pesantren, perilaku santri dibentuk oleh sistem keilmuan, adab, dan lingkungan yang sangat tertata. Siapa yang menjadi panutan, kitab apa yang dipelajari, hingga waktu tidur dan bangun pun diatur dengan pola. Kedisiplinan dan keberkahan tidak terjadi begitu saja, semuanya adalah hasil dari algoritma nilai dan rutinitas sosial.
Dengan demikian, baik dalam dunia modern (digital) maupun dunia tradisional (pesantren), tidak ada yang berjalan tanpa sebab. Semuanya tunduk pada sistem dan struktur yang membentuk perilaku dan pikiran manusia.
Penutup
Perbandingan antara algoritma media sosial dan algoritma media pesantren menunjukkan dua cara berpikir dan menyampaikan informasi yang sangat berbeda. Media sosial cepat dan demokratis, tetapi rawan disinformasi dan bias. Sementara itu, media pesantren lambat namun penuh kedalaman, adab, dan keotentikan keilmuan.
Media sosial dapat menyebabkan overstimulasi informasi, menurunkan daya fokus, dan memicu budaya instan. Sebaliknya, pesantren membentuk mental tahan uji, disiplin, dan kesadaran spiritual, sesuatu yang jarang diajarkan dalam ruang digital. Namun, ironisnya, banyak santri dan generasi muda pesantren yang kini lebih mengenal algoritma media sosial dibanding algoritma pesantren itu sendiri. Ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan Islam. Dalam menghadapi era digital, pesantren perlu memahami cara kerja media sosial agar bisa mengisi ruang tersebut dengan nilai-nilai luhur. Sebaliknya, masyarakat digital perlu belajar dari pesantren tentang pentingnya verifikasi, kesabaran, dan moralitas dalam menyampaikan dan menerima informasi.
Mengaitkan algoritma media sosial dan algoritma media pesantren melalui ilmu sosial menunjukkan bahwa segala sesuatu dibentuk oleh struktur yang kompleks dan berlapis, membantu kita menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar terjadi secara kebetulan. Semua adalah hasil dari desain, baik oleh manusia, masyarakat, maupun tradisi yang kesemuanya adalah kehendak Allah SWT.
Algoritma media sosial membuat persepsi bahwa suatu pendapat adalah pandangan mayoritas hanya karena sering dilihat, membentuk tekanan sosial untuk ikut menyetujui pandangan tersebut. Ketika kita suka satu video dakwah yang mengajak kita kepada kebaikan maka besok kita akan dipertemukan dengan video sejenis. Begitupula dalam kehidupan disaat kita punya satu pikiran positif, selanjutnya akan dipertemukan dengan orang-orang positif dan kejadian baik melebihi dari apa yang kita bayangkan begitupula sebaliknya. Mari selalu berpikir positif, optimis, berprasangka baik, insyaAllah segala kebaikan mendekat kepada kita. Aamiin
You may also like
Menggali Makna Ziarah: Antara Spiritualitas dan Modernitas

