
Dakwah dan Tawa; Mengulik Humor Para Da’i Kita
- Categories Kolom
- Date 9 June 2025
Fenomena dakwah Islam di Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan dinamika sosial dan kemajuan teknologi komunikasi. Dari masa dakwah tradisional yang dilakukan secara langsung di masjid atau pesantren, kini dakwah telah berkembang ke era digital, di mana ceramah-ceramah keagamaan dapat diakses melalui berbagai platform daring seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Perkembangan ini mencerminkan pergeseran dalam cara penyampaian pesan agama yang semakin adaptif dan variatif. Di tengah perubahan tersebut, masyarakat Indonesia yang dikenal religius namun juga terbuka terhadap budaya populer, cenderung lebih menyukai gaya dakwah yang santai, dialogis, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini membuka peluang lebih luas bagi para da’i untuk mengeksplorasi pendekatan dakwah yang lebih segar dan kontekstual, termasuk penggunaan unsur humor dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan.
Munculnya para da’i seperti ustadz Abdul Somad (UAS) dari Sumatera, ustadz Das’ad Latif dari Sulawesi, dan KH. Anwar Zahid dari Jawa menjadi contoh nyata bagaimana gaya dakwah yang menghibur dan penuh humor mampu menarik perhatian audiens dari berbagai latar belakang. Ketiganya dikenal bukan hanya karena penyampaian materi keagamaan, tetapi juga karena kecakapan mereka dalam mengintegrasikan humor secara cerdas dalam ceramah. Humor yang mereka gunakan bukan sekadar lelucon kosong, melainkan sarana untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai Islam dengan cara yang lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa humor dapat menjadi jembatan penghubung antara teks-teks agama yang serius dengan realitas masyarakat yang kompleks dan dinamis.
Namun, di balik tawa para jamaah terdapat dimensi psikologis dan sosial yang menarik untuk diteliti secara akademis. Humor dalam dakwah bukanlah fenomena yang terjadi secara spontan atau kebetulan, melainkan sebuah strategi retorika yang disengaja dan berakar kuat dalam dinamika komunikasi massa. Untuk memahami mengapa humor efektif dan menarik dalam ceramah ketiga da’i tersebut, teori-teori konvensional tentang humor menjadi kerangka analisis yang sangat berguna. Teori Relief mengkaji bagaimana humor berfungsi untuk meredakan ketegangan psikologis; teori Superiority menggambarkan perasaan unggul yang muncul ketika audiens menertawakan kesalahan atau ketidaktahuan orang lain; sedangkan teori Incongruity menyoroti kontras logis yang tak terduga yang memicu kejutan kognitif dan tawa. Ketiga teori ini bersama-sama menunjukkan bahwa humor dalam dakwah tidak sekadar hiburan semata, melainkan merupakan bentuk komunikasi persuasif yang kompleks dan canggih.
Selama ini, kajian dakwah cenderung fokus pada aspek tekstual, ideologis, atau performatif dari ceramah keagamaan. Belum banyak artikel yang secara eksplisit mengaitkan mekanisme humor dalam dakwah dengan kerangka teori humor klasik secara sistematis. Dengan menganalisis ceramah-ceramah UAS, ustadz Das’ad Latif, dan K.H. Anwar Zahid melalui lensa teori Relief, Superiority, dan Incongruity di beberapa video YouTube yang beredar mulai 2017-2024, tulisan ini ingin menawarkan perspektif baru yang tidak hanya menjelaskan mengapa humor dakwah mereka efektif, tetapi juga bagaimana humor itu bekerja dalam membentuk persepsi dan respons jamaah. Selain itu ketiga da’i ini representasi dari da’i Jawa yaitu KH Anwar Zahid dan da’i luar Jawa yaitu UAS dari Sumatera yang termasuk bagian barat Indonesia dan ustadz Das’at Latif representasi da’i luar Jawa wilayah Indonesia bagian timur dan tengah.
Berdasarkan uraian di atas, pertanyaan utama yang muncul dalam tulisan ini adalah: Bagaimana teori-teori humor konvensional—Relief, Superiority, dan Incongruity—dapat diterapkan untuk menganalisis humor yang digunakan oleh ustadz Abdul Somad, ustadz Das’ad Latif, dan K.H. Anwar Zahid dalam ceramah dakwah mereka?
Mengenal Tiga Teori Humor: Relief, Superiority, dan Incongruity
Relief, teori Relief pertama kali dikembangkan oleh Sigmund Freud dalam bukunya Jokes and Their Relation to the Unconscious yang terbit pada tahun 1905. Menurut Freud, humor adalah bentuk pelepasan energi psikis yang terpendam akibat tekanan emosional atau norma sosial yang ketat. Dalam konteks ini, tawa berfungsi sebagai jalan keluar untuk melepaskan ketegangan, kecemasan, atau bahkan rasa takut terhadap hal-hal yang sulit dibicarakan secara langsung. Misalnya, humor Cak Lontong, "Saya dulu waktu kecil itu sering dibilang anak pintar sama ibu saya. Tapi jangan salah, itu bukan karena saya rangking satu... Tapi karena saya tahu cara nyontek tanpa ketahuan! Itu namanya... pintar menyiasati keadaan!".
Selain Freud, teori humor Relief juga dikembangkan lebih lanjut oleh Herbert Spencer (1820–1903), yang mengaitkan tawa dengan pelepasan energi saraf yang berlebihan. Dalam konteks dakwah, pelepasan ini terlihat saat jamaah tertawa karena merasa nyaman mendengar topik-topik yang biasanya menakutkan, seperti azab kubur, disampaikan dengan cara yang lebih ringan. Tawa berfungsi sebagai bentuk katarsis kolektif bukan untuk meremehkan isi ceramah, melainkan sebagai bentuk penerimaan emosional terhadap hal-hal yang biasanya menimbulkan ketakutan. Dengan kata lain, humor menjadi jembatan yang memungkinkan pesan dakwah tersampaikan tanpa menimbulkan ketegangan yang berlebihan. Fungsi ini sangat penting dalam masyarakat yang majemuk, di mana pendekatan yang keras bisa menimbulkan resistensi.
Sementara itu Superiority teori berasal dari filsuf Yunani kuno, Plato dan Aristoteles, namun secara sistematis dikembangkan oleh filsuf Inggris, Thomas Hobbes dalam bukunya Leviathan (1651). Hobbes menyatakan bahwa tawa muncul karena kita merasa “lebih” daripada orang lain—lebih pintar, lebih benar atau lebih bermoral. Misalnya humor Jarwo Kwat, "Saya ini pernah daftar jadi tentara tapi gagal. Bukan karena fisik saya lemah, bukan! Saya kuat! Push-up seratus kali, saya cuma butuh... dua hari! Waktu tes baris-berbaris, saya juga hebat. Masalahnya cuma satu: pas yang lain maju satu langkah. Saya malah mundur tiga langkah. Kata pelatih: 'Kamu baris-berbaris atau main ular tangga?!'"(Diakhiri dengan tawa khas Jarwo yang keras dan ekspresif: "HAAAHHH!!)
Teori Superiority seringkali digunakan, terkadang secara tidak sadar, oleh para da’i ketika mereka menirukan cara berbicara jamaah, mencontohkan kesalahan umum, atau menyindir tingkah laku sehari-hari umat dengan cara yang lucu. Dalam konteks ini, tawa muncul karena audiens merasa “lebih tahu” atau merasa tidak melakukan kesalahan tersebut. Akibatnya, tawa menjadi cara halus untuk memperbaiki diri, karena orang cenderung lebih menerima kritik yang disampaikan dengan humor dibandingkan dengan cara yang menggurui. Thomas Hobbes menegaskan bahwa perasaan puas karena “lebih unggul” ini tidaklah negatif jika digunakan dengan tepat—termasuk dalam dakwah, di mana sindiran humoris bisa lebih efektif dibandingkan ceramah yang kaku dan penuh tekanan.
Adapun Incongruity teori dikembangkan oleh para pemikir seperti Immanuel Kant dalam Critique of Judgment (1790) dan lebih lanjut disempurnakan oleh Arthur Schopenhauer (1818). Inti dari teori ini adalah bahwa humor muncul saat ada ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan dan apa yang sebenarnya terjadi. Ketidaksesuaian itu mengejutkan, namun tetap masuk akal, sehingga memicu tawa. Misalnya, humor gaya H. Bolot:"Pak Bolot, ini jam berapa?!" (Lawannya bertanya dengan suara keras). "Hah?! Saya gak jual semangka!!" (Bolot menjawab sambil melotot. Penonton langsung tertawa karena jawaban yang sama sekali tidak nyambung).
Dalam praktek dakwah, teori Incongruity membantu menciptakan gaya ceramah yang dinamis dan menarik sehingga tidak membosankan. Ketika jamaah diajak berpikir melalui kejutan logis yang lucu, mereka tidak hanya tertawa tetapi juga lebih mudah mengingat pesan yang disampaikan. Jenis humor ini sangat cocok dengan masyarakat modern yang terbiasa dengan pola pikir cepat dan kritis. Ketika humor dibangun dari logika yang cerdas namun tak terduga, humor tersebut menjadi alat komunikasi yang efektif sekaligus menyenangkan. Oleh karena itu, dengan memahami ketiga teori humor—Relief, Superiority, dan Incongruity—kita tidak hanya dapat menikmati kelucuan dalam ceramah para da’i, tetapi juga memahami bagaimana tawa bisa menjadi sarana dakwah yang mendalam, reflektif, dan penuh kemanusiaan.
UAS dan Humor Berbasis Kontras Moral
Salah satu contoh yang kerap dikutip dari ceramah UAS adalah sindiran terhadap orang yang tampak religius tapi berperilaku buruk: “Jenggot dua jengkal, gamis putih, tapi utang tiga tahun belum dibayar. Ini bukan sunnah, ini penipuan berjubah!” Kalimat ini bekerja pada tiga level teori humor. Secara relief, ia mewakili frustrasi sosial terhadap kemunafikan. Superiority muncul saat audiens merasa lebih baik karena tidak bersikap demikian. Namun, yang paling dominan adalah incongruity: tampilan luar yang agamis sangat bertentangan dengan perilaku tidak bermoral.
Contoh lain dari UAS adalah guyonan soal ibadah yang bercampur teknologi: “Malaikat bingung: ‘Ini salat atau scroll TikTok?’” Kekuatan lelucon ini terletak pada absurditasnya. Bagaimana mungkin malaikat—yang kita bayangkan sakral dan agung—bingung oleh perilaku manusia yang sibuk dengan HP di tengah ibadah? Di sini, incongruity mendominasi, sementara relief membantu audiens menertawakan kebiasaan buruk sendiri, dan superiority menyindir mereka yang tidak khusyuk.
Ustadz Das’ad Latif dan Komedi Rumah Tangga
Ceramah ustadz Das’ad Latif sering menyentuh realitas rumah tangga yang rumit tapi akrab di telinga banyak orang. “Kalau istri bilang ‘Terserah’, itu bukan berarti bebas. Itu artinya jebakan. Kalau lanjut, salah. Kalau diam, salah. Jadi pura-pura tidur!” Lelucon ini khas incongruity, karena membongkar makna tersembunyi di balik kata “terserah”. Tawa muncul dari absurditas logika hubungan suami-istri yang sering kali tak tertebak. Namun, relief juga berperan karena banyak pasangan merasa senasib. Sedikit superiority muncul saat audiens menertawakan ‘si suami’ yang selalu salah langkah.
Contoh lainnya adalah: “Adzan subuh terdengar: nggak bangun. Tapi kalau istri bisik: ‘Anak-anak sekolah,’ langsung bangun. Takut istri lebih dari takut Allah.” Guyonan ini memanfaatkan incongruity antara dua jenis otoritas spiritual dan domestik. Efek humornya kuat karena mengekspos prioritas yang terbalik secara logika agama. Sekali lagi, relief dan superiority ikut bermain: ada rasa lega karena kelemahan ini umum, dan rasa unggul bagi yang merasa tidak seperti itu.
- Anwar Zahid dan Satire Sosial Ala Jawa
Dengan gaya ceplas-ceplos beraksen Jawa, KH. Anwar Zahid menyajikan kritik sosial lewat kelucuan yang mengena. “Solat lima waktu, tapi nyolong proyek. Gusti Allah mboten sare, Lur!” Humor ini memadukan incongruity antara ritual religius dan tindakan kriminal, dengan relief sebagai saluran ekspresi atas keresahan publik tentang korupsi. Kalimat “Gusti Allah mboten sare” menjadi punchline yang ringan tapi mengandung peringatan serius. Superiority juga hadir dalam bentuk sindiran terhadap kemunafikan elite.
Dalam contoh lain, beliau menyampaikan: “Ngaji males, tapi minta jodoh sholehah. Wong sholehah mau sama yang males ngaji? Ndang tobat, rek.” Kalimat ini lucu karena mengungkap ketidaksesuaian antara harapan (mendapat jodoh ideal) dan kenyataan (tidak memperbaiki diri). Incongruity sangat dominan. Namun, lelucon ini juga memicu superiority pada mereka yang merasa lebih ‘layak’, sekaligus memberikan relief pada audiens yang mulai sadar akan kekurangannya.
Melihat gaya masing-masing da’i diatas maka bisa dikategorikan bahwa UAS banyak menggunakan incongruity dan kritik sosial religius. Sedangkan ustadz Das’ad dominan relief dan kisah rumah tangga. Adapun K.H. Anwar Zahid kuat dalam superiority dan relief, terutama menyasar elite.
Contoh Humor Ceramah UAS, Ustadz Das’at Latif dan KH Anwar Zahid Mulai 2017-2024 di YouTube
| No | Da’i | Kutipan Humor | Teori Humor Dominan | Penjelasan Singkat |
| 1 | UAS | “Jenggot dua jengkal, gamis putih, tapi utang tiga tahun belum dibayar. Ini bukan sunnah, ini penipuan berjubah.” | Incongruity + Superiority | Ada ketidaksesuaian antara tampilan religius dan moral. Audiens juga merasa superior terhadap pelaku. |
| 2 | UAS | “Malaikat bingung: ‘Ini salat atau scroll TikTok?’” | Incongruity + Relief | Humor muncul dari absurdnya seseorang main TikTok saat salat. Meredakan rasa bersalah audiens. |
| 3 | UAS | “Ada yang kalau doa sambil main HP. Mungkin minta sinyal langsung ke langit.” | Incongruity | Menggabungkan ritual spiritual dengan dunia digital secara tidak lazim dan lucu. |
| 4 | UAS | “Ada yang ghibah sambil ngopi. Setan pun mungkin bilang: 'Ayo lanjut!'” | Incongruity + Relief | Humor muncul dari membayangkan setan ikut mendukung kegiatan buruk manusia secara santai. |
| 5 | Das’ad Latif | “Kalau istri bilang ‘Terserah’, itu bukan berarti bebas. Itu artinya jebakan. Kalau lanjut, salah. Kalau diam, salah. Jadi pura-pura tidur.” | Incongruity + Relief | Lucu karena bertolak belakang antara bahasa dan makna. Jadi pelepasan stres rumah tangga. |
| 6 | Das’ad Latif | “Adzan subuh terdengar: nggak bangun. Tapi kalau istri bisik: ‘Anak-anak sekolah’, langsung bangun. Takut istri lebih dari takut Allah.” | Incongruity + Superiority | Ketidaksesuaian respon antara adzan dan bisikan istri. Menyentil kesadaran secara halus. |
| 7 | Das’ad Latif | “Kalau istri ngambek, jangan lawan. Lihat angin, cari waktu. Istri bukan kayak setan, tapi juga bukan malaikat. Campuran!” | Incongruity | Penjelasan relasi suami-istri dengan metafora ekstrem yang mengejutkan namun relatable. |
| 8 | Das’ad Latif | “Kalau istri marah jangan dilawan. Tunggu reda. Kalau perlu pura-pura ngaji biar dibilang saleh.” | Superiority + Relief | Audiens menertawakan strategi “pura-pura saleh” sebagai taktik bertahan. |
| 9 | Anwar Zahid | “Wong sholat telat, tapi rebutan paling depan waktu kondangan. Iki kok lucu, lho.” | Incongruity | Ketidaksesuaian antara malas beribadah tapi semangat makan gratis. |
| 10 | Anwar Zahid | “Uangmu habis buat rokok, minta doa supaya rejeki lancar. Lha malaikat yo bingung, iki serius opo gojek?” | Incongruity + Superiority | Malaikat bingung: campuran antara nasihat dan olok-olok terhadap perilaku tidak konsisten. |
| 11 | Anwar Zahid | “Ngaji males, tapi minta jodoh sholehah. Wong sholehah mau sama yang males ngaji? Ndang tobat, rek.” | Superiority + Relief | Audiens merasa lebih tahu atau menyadari kesalahan orang lain (atau diri sendiri). |
| 12 | Anwar Zahid | “Kalau ngaji, yang datang cuma lima. Tapi kalau dangdutan, 500. Malaikat mungkin juga ikut goyang.” | Incongruity | Ketidaksesuaian antara keseriusan spiritual dan hiburan duniawi dibungkus dengan absurditas. |
Humor Sebagai Jalan Tengah Antara Kritik dan Dakwah
Humor dalam konteks dakwah bukan sekadar bentuk hiburan semata, melainkan merupakan alat komunikasi yang strategis dan efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral serta kritik sosial. Para pendakwah memanfaatkan humor sebagai jalan tengah yang cerdas untuk menyeimbangkan antara kewajiban menyampaikan kebenaran dan kebutuhan menjaga hati jamaah tetap terbuka. Dengan menyampaikan nasihat atau kritik melalui gaya yang ringan dan mengundang tawa, mereka mampu meredam resistensi yang kerap muncul terhadap ceramah yang terlalu menggurui atau sarat dengan norma secara kaku. Dalam hal ini, humor berperan sebagai jembatan yang menjadikan pesan dakwah lebih mudah diterima bukan sebagai perintah yang menekan, tetapi sebagai ajakan bersahabat yang menciptakan kehangatan dan kedekatan dalam komunikasi.
Lebih dari itu, pendekatan dakwah yang memanfaatkan humor membuka ruang refleksi yang lebih jujur dan kritis, terutama di tengah masyarakat yang mungkin sudah lelah dengan gaya ceramah tradisional yang kaku dan membosankan. Tawa yang muncul tidak sekadar menjadi hiburan sesaat, melainkan berfungsi sebagai mekanisme pelepas ketegangan yang membuat pendengar mampu menyadari kekurangan atau kesalahan mereka tanpa merasa disalahkan atau diserang. Dengan demikian, humor menjadi sarana dakwah yang inklusif dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial atau tingkat pendidikan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kritik yang disampaikan dengan cara ramah dan penuh humor jauh lebih efektif dalam menembus benteng psikologis audiens, sekaligus membuka jalan bagi perubahan sikap dan perilaku yang lebih positif.
Penutup: Humor yang Menyadarkan, Bukan Menyindir Semata
Humor dalam dakwah keagamaan bukan sekadar pelengkap untuk mencairkan suasana, melainkan merupakan alat komunikasi yang strategis dan sarat makna. Dalam gaya dakwah tokoh-tokoh seperti ustadz Abdul Somad (UAS), ustadz Das’ad Latif, dan K.H. Anwar Zahid, humor dirancang dengan cermat untuk membangun kedekatan emosional dengan para pendengar. Ketika mereka menyelipkan unsur kelucuan dalam ceramahnya, itu bukan berarti mereka mengabaikan inti pesan, melainkan justru membuka ruang agar ajaran-ajaran spiritual lebih mudah diterima dan dipahami. Di tangan mereka, humor menjadi pintu masuk yang efektif menuju kesadaran bukan sekadar pemicu tawa hampa atau sindiran tajam yang menjauhkan. Humor yang mereka tampilkan bersifat inklusif, bersahabat, dan seringkali mengandung perenungan;mengajak audiens untuk tertawa sambil merenung lebih dalam.
Pendekatan ini dapat dipahami lebih dalam melalui teori humor klasik seperti relief, superiority, dan incongruity. Teori relief menjelaskan bahwa tawa berfungsi sebagai pelepas ketegangan; dalam konteks dakwah, hal ini tampak ketika para pendakwah membahas isu-isu sosial atau keagamaan yang sensitif dengan cara yang jenaka dan menenangkan. Sementara itu, teori superiority muncul ketika audiens merasa lebih tahu atau merasa lucu terhadap kekeliruan umum manusia, yang sering kali disampaikan melalui contoh-contoh ringan dan akrab dari sang da’i. Adapun incongruity yakni ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan terlihat dalam penggunaan logika jenaka oleh para pendakwah, yang memicu pemikiran kritis dan menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu harus dibicarakan dengan cara yang kaku dan serius. Ketiga teori ini bukan hanya menjelaskan cara kerja humor, tetapi juga mengungkap kedalaman dan kesengajaan strategi retorika yang digunakan oleh para da’i dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual.
Dengan demikian, humor dalam dakwah Islam bukan semata-mata merupakan teknik retoris untuk menyampaikan pesan, melainkan juga mencerminkan bentuk adaptasi budaya yang menunjukkan bahwa Islam bisa dihadirkan secara ramah, menyegarkan, dan membumi. Ketika sebuah ceramah diselingi dengan candaan, hal itu tidak lantas mengurangi bobot keseriusan pesan yang disampaikan. Justru, nilai-nilai moral dan spiritual menjadi lebih membekas karena disampaikan dengan empati dan berpijak pada kearifan lokal. Humor yang memberi pencerahan, bukan sekedar menyindir atau mengejek yang justru akan menjadikan pendengar malah tersinggung, tapi humor yang membentuk gaya dakwah yang lebih humanis dan relevan dengan realitas masyarakat masa kini. Para pendakwah yang mampu memadukan kelucuan dengan kedalaman pesan membuktikan bahwa dakwah tidak harus kaku atau menegangkan, tetapi bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, mengalir, dan sekaligus menggugah kesadaran. Maka dari itu, menilai peran humor dalam dakwah juga berarti menelaah bagaimana agama bisa tampil sebagai cahaya yang hangat, bukan sebagai bara yang menakutkan.
You may also like
Menggali Makna Ziarah: Antara Spiritualitas dan Modernitas

