
Jelang Transisi Akhir Masa Khidmat, Organisasi Mahasiswi UNKAFA Selenggarakan Pemilu Raya
Berita | UNKAFA – Dewan Perwakilan Mahasiswi bersama dengan Badan Eksekutif Mahasiswi Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik menggelar Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) 2025 pada 28 Februari 2025. Ini merupakan agenda penting dalam reformasi kepengurusan organisasi mahasiswi tingkat universitas. Acara yang berlangsung di Lapangan Pondok Timur Mambaus Sholihin ini menjadi panggung demokrasi bagi mahasiswi UNKAFA untuk menentukan pemimpin Badan Eksekutif Mahasiswi (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswi (DPM) masa khidmat 2025-2026.
PEMIRA 2025 mengusung tema “Pemimpin Berideologi Unipesantren”, mencerminkan komitmen UNKAFA dalam mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kuat. Rangkaian acara dimulai dengan pemaparan visi dan misi dari para kandidat presiden BEM dan ketua DPM, dilanjutkan dengan sesi debat dan uji publik yang melibatkan dewan panelis.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari lingkungan UNKAFA, termasuk keluarga ndalem yang diwakili oleh Neng Hj. Musyafa’ah, Lc., MA., serta jajaran rektorat yang diwakili oleh Wakil Rektor II, Dr. Ah. Haris Fahrudi, M.Th.I., M.Fil.I. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap proses demokrasi di kalangan mahasiswi.
“PEMIRA ini adalah wujud nyata dari pendidikan demokrasi yang kita terapkan di UNKAFA. Kami ingin mahasiswi belajar bagaimana berorganisasi, berdiskusi, dan mengambil keputusan secara demokratis,” ujar Dr. Ah. Haris Fahrudi, M.Th.I., M.Fil.I dalam sambutannya.
Beliau menambahkan bahwa tema “Pemimpin Berideologi Unipesantren” sangat relevan dengan visi UNKAFA sebagai universitas yang mengedepankan nilai-nilai pesantren.
Annisa Muthmainnah, ketua panitia PEMIRA 2025, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur acara PEMIRA hari ini berjalan lancar. Antusiasme mahasiswa sangat tinggi, dan kami melihat semangat demokrasi yang luar biasa dari para kandidat dan peserta,” tuturnya.
Annisa juga menjelaskan bahwa proses pemilihan umum akan dilakukan setelah sesi debat dan uji publik selesai.
Sesi debat dan uji publik menjadi momen krusial dalam PEMIRA 2025. Para kandidat diuji kemampuan mereka dalam menyampaikan gagasan, menjawab pertanyaan, dan berargumentasi. Dewan panelis yang terdiri dari dosen dan tokoh penting di pondok pesantren Mambaus sholihin memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menguji pemahaman kandidat terhadap isu-isu kemahasiswaan dan khususnya kepesantrenan.
Salah satu momen menarik dalam debat adalah ketika para kandidat dimintai strategi yang akan ditawarakan kepada pihak rektorat dalam upaya pengembangan kampus di bidang-bidang tertentu. Lebih lanjut, para kandidat kompak bahwa mereka akan berkomitmen untuk meningkatkan potensi mahasiswi UNKAFA di berbagai bidang.
“Kami ingin BEM dan DPM menjadi wadah bagi mahasiswi untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal. Kami akan bekerja keras untuk mewujudkan program-program yang bermanfaat bagi seluruh mahasiswi UNKAFA,” ujar salah satu kandidat presiden BEM dalam sesi debat.
Setelah sesi debat dan uji publik, acara dilanjutkan dengan proses pemilihan umum. Mahasiswi UNKAFA menggunakan hak suara mereka untuk memilih pemimpin BEM dan DPM yang mereka percayai. Proses pemilihan berlangsung tertib dan lancar, dengan pengawasan dari panitia dan saksi dari masing-masing kandidat.
PEMIRA 2025 UNKAFA diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam penguatan demokrasi di kalangan mahasiswi. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pemilihan pemimpin, tetapi juga menjadi sarana pendidikan politik bagi mahasiswi. Dengan berpartisipasi dalam PEMIRA, mahasiswi belajar tentang pentingnya demokrasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab sebagai warga negara. (Ver)