
Kepatuhan Religius sebagai Sumber Kekuatan
- Categories Kolom
- Date 11 May 2025
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Sesungguhnya yang merupakan ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memutuskan (perkara) di antara mereka (di antara kaum muslim sendiri atau di antara kaum muslim dan non muslim) hanyalah, “Kami mendengar dan kami taat.” Mereka itulah orang-orang beruntung”.
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ
“Kitab (a-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ
“Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata”.
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa”.
Ayat-ayat tersebut telah menunjukkan dan mendorong kepada seluruh umat Islam, agar melakukan kepatuhan religius, dengan melakukan transformasi nilai-nilai yang ada dalam ayat-ayat al-Qur’an tersebut secara implementatif untuk dapat dipraktikkan secara praktis oleh para penghuni atau penduduk bumi. Sehingga pesan-pesan yang ada dalam ayat al-Qur’an benar-benar membumi, dan menjadi kekuatan baru yang harus mampu mendorong dan menciptakan para umat Islam mau berkreasi, berinovasi, berapresiasi, dan terlihat berjatuh diri dengan adanya segala progresivitas.
Dengan melakukan kepatuhan religius di dalam diri seorang Muslim akan memunculkan sebuah kekuatan baru, yaitu dia akan bangga sebagai umat mukmin atau seorang mukmin yang ditakdirkan untuk menjadi apa saja yang sesuai dengan takdirnya Allah SWT. sebagai wujud ekspresi sikap bertauhid, bahwa Allah SWT tidak akan pernah salah dalam menetapkan sebuah takdir. Dengan bertauhid ini maka seorang mukmin atau seorang hamba akan mampu untuk menghadapi kerasnya benturan apapun di dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.
Kepatuhan religius ini merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan spiritual dan sosial individu. Istilah ini merujuk pada kesungguhan dan konsistensi seseorang dalam menjalankan ajaran agamanya, baik dalam aspek ritual maupun moral. Di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman, kepatuhan terhadap nilai-nilai agama menjadi indikator integritas iman serta komitmen terhadap ajaran Ilahi.
Secara umum, kepatuhan religius mencakup dua aspek utama:
- Aspek ritual, seperti mendirikan salat, berpuasa, menunaikan zakat, dan membaca al-Qur’an.
- Aspek moral dan sosial, seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.
Kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan. Kepatuhan ritual tanpa moralitas akan kehilangan makna, begitu pula sebaliknya.
Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya ketaatan sebagai cermin keimanan, ini sangat terlihat dari beberapa ucapan beliau, di antaranya:
- Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي (رواه مسلم)
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Saw. beliau bersabda: Barang siapa taat kepadaku maka ia taat kepada Allah, dan barang siapa durhaka kepadaku maka ia durhaka kepada Allah, barang siapa taat pada pemimpinnya maka ia taat kepadaku, dan barang siapa durhaka pada pemimpinnya maka ia durhaka kepadaku.” (HR. Imam Muslim)
- Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi
وكان صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقولُ: إنَّ مِن خِيارِكم أحسَنَكم أخْلاقًا
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
- Dalam hadits Arbain yang ketujuh, dikemukakan riwayat berikut:
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Bersumber dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat Nabi) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab, Rasul, para pemimpin muslimin dan mereka secara umum”.
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan religius tidak hanya berwujud ibadah formal, tetapi juga mencakup etika, akhlak, dan sikap sosial yang positif.
Mari kita dorong diri kita masing-masing dan kita juga perlu mendorong para Umat Muslim agar dapat melakukan kepatuhan religius. Dan, caranya adalah dengan melakukan manajemen diri yang bagus. Dasar dari manajemen diri ini adalah Firman Allah SWT:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Penutup
Kepatuhan religius bukan sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan, tetapi mencerminkan penghayatan terhadap nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan. Ketika kepatuhan ini dilandasi keikhlasan dan pemahaman yang benar, maka ia akan menjadi Sumber Kekuatan dan juga akan menjadi cahaya yang membimbing seseorang dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Tag:doktor, iat, magister, pascasarjana, ushuluddin
You may also like
Menggali Makna Ziarah: Antara Spiritualitas dan Modernitas

