
Menggali Makna Ziarah: Antara Spiritualitas dan Modernitas
- Categories Kolom
- Date 3 November 2025
Ziarah (pilgrimage), dalam segala maknanya, selalu menghadirkan ruang perjumpaan antara manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya: sejarah, spiritualitas, dan bahkan harapan. Dalam banyak tradisi masyarakat, utamanya di Indonesia, ziarah bukan sekadar perjalanan menuju makam atau tempat yang dianggap suci. Ia adalah perjalanan jiwa yang sarat makna, perjalanan batin untuk menundukkan diri di hadapan yang telah memberi jejak bagi kehidupan dan iman.
Kita tentu akrab dengan tradisi ziarah ke makam para Walisongo di Jawa, para kiai di pesantren, atau tokoh-tokoh yang meninggalkan warisan kebajikan di wilayah Nusantara ini. Dulu, atau bahkan saat ini khususnya bagi kalangan masyarakat tradisional, ziarah lebih banyak dimaknai sebagai bentuk penghormatan, ngalap berkah, dan doa.
Namun, di tengah derasnya arus modernitas, makna itu mulai bergeser, terutama ketika ruang spiritual berubah menjadi ruang komersial. Kini, banyak tempat ziarah dipoles layaknya destinasi wisata religi, lengkap dengan fasilitas, paket perjalanan, hingga pasar oleh-oleh.
Hal ini menimbulkan paradoks menarik: di satu sisi, ziarah tetap menjadi praktik spiritual yang menyatukan manusia dengan Tuhannya; di sisi lain, ia juga menjadi komoditas budaya yang menjanjikan penghidupan ekonomi. Fenomena ini membuka ruang kajian baru tentang bagaimana iman, budaya, dan ekonomi saling berkelindan dalam masyarakat modern.
Dalam sudut pandanga kajian akademik, Peter Jan Margry, seorang professor dalam bidang sejarah dan etnologi Universitas Amsterdam, memberikan pandangan yang berbeda, setidaknya bagi masyarakat kita pada umumnya, dengan membedah ziarah dari perspektif sosial-antropologis.
Melalui bukunya Shrines and Pilgrimage in the Modern World: New Itineraries into the Sacred (2008), ia menunjukkan bahwa ziarah kini tak lagi terbatas pada perjalanan religius. Modernitas telah memperluas cakupan maknanya menjadi sebentuk pencarian makna dan identitas.
Margry bahkan membagi ziarah ke dalam empat bentuk, yakni ziarah politik, musik, atletik, dan eksistensial, yang berkaitan dengan kehidupan, pengorbanan, dan kematian.
Pertama, ziarah politik menggambarkan perjalanan seorang individu atau sekelompok orang ke suatu tempat yang memiliki signifikansi historis atau ideologis dalam konteks politik. Kunjungan ke makam tokoh-tokoh revolusioner atau situs-situs perjuangan nasional dapat diringkas sebagai jenis ini.
Kedua, ziarah musik muncul dari budaya populer modern (pop culture). Kategori ini didasari oleh fakta banyaknya penggemar musik sering bepergian ke tempat-tempat yang berkaitan dengan musisi atau band legendaris, seperti ziarah ke Graceland, rumah Elvis Presley di Amerika Serikat, atau ke Liverpool untuk mengenang The Beatles.
Dalam konteks lokal, fenomena ini juga terlihat dalam kunjungan penggemar ke makam Didi Kempot di Solo, yang kini telah menjadi situs penghormatan budaya dan kenangan emosional bagi ‘Sobat Ambyar’.
Ketiga, ziarah atletik yang berkaitan dengan glorifikasi prestasi dan dedikasi di dunia olahraga. Para penggemar atau komunitas tertentu berziarah ke stadion, monumen, atau makam atlet legendaris sebagai bentuk penghormatan dan inspirasi. Contohnya termasuk ziarah ke Stadion Maracana di Brasil atau makam Diego Maradona di Argentina. Mereka datang bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk merasakan energi kolektif dan nilai perjuangan yang melekat pada tokoh atau tempat tersebut.
Keempat, ziarah yang berkaitan dengan kehidupan, pengorbanan, dan kematian merupakan bentuk yang paling dekat dengan makna ziarah tradisional, tetapi dalam konteks modern seringkali diperluas kepada tokoh-tokoh yang dianggap memiliki nilai-nilai khusus.
Gagasan tentang jenis ziarah tentu ini menarik ketika kita melihat bagaimana masyarakat global menjadikan ziarah bagian dari budaya popular dan menunjukkan bahwa ziarah telah menembus batas antara religius dan profan, antara iman dan nostalgia.
Namun, bagi masyarakat Indonesia yang hidup dalam kultur keagamaan kuat, pandangan Margry terasa belum sepenuhnya memadai. Ziarah bagi kalangan masyarakat kita dianggap lebih dari sekadar perjalanan simbolis atau romantisme sejarah, melainkan amalan spiritual yang mengandung nilai transendental: tabarruk (ngalap berkah), mengingat kematian, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Tuhan. Bahkan dalam bentuk yang tampak sekuler, spirit religius itu sering masih hadir, meski mungkin tak selalu disadari.
Sependek pengetahuan saya, pandangan Margry terkiat ziarah dengan pendekatan rasionalistik yang lebih dominan berpijak pada sudut pandang kajian antorpologi, rasanya sulit digunakan secara utuh untuk melihat fenomena ziarah di masyarakat yang memadukan keimanan dengan tradisi seperti di Indonesia ini.
Ia memang melihat ziarah sebagai cermin modernitas dan konsumsi budaya; namun di sini, dalam konteks masyarakat Indonesia pada umumnya, ziarah justru menjadi jembatan antara dunia fana dan ilahi.
Jika tidak dianggap berlebihan, rasanya teori Margry ini terkesan terlalu rasionalistik dan cenderung meminggirkan dimensi keimanan, yang merupakan inti dari pengalaman ziarah di masyarakat religius seperti Indonesia.
Ruang ziarah di Indonesia tak sekadar “tempat,” melainkan simpul pengalaman spiritual yang tumbuh dari akar sosial, budaya, dan ekonomi umat.
Ziarah adalah pengalaman yang merangkul paradoks: ia sakral sekaligus profan, spiritual sekaligus sosial, lama sekaligus modern. Dari situlah ia terus hidup, menjadi jalan bagi manusia untuk mencari makna, mendekatkan diri, dan menegaskan kembali siapa dirinya di hadapan sejarah dan Tuhan.
Saya sendiri masih meyakini, husnudhon, bahwa fenomena atau praktik ziarah yang jamak dilakukan oleh masyarakat kita, entah seberapa kadarnya, selalu mengandung motivasi spiritual. Meski dalam banyak kasus, terutama ziarah yang dilaksanakan dengan label “wisata religi”, semangat untuk belanja oleh-oleh atau sekedar mengisi masa liburan nampak lebih kentara dan mendominasi dari dorongan spiritualitas itu sendiri.
Tentu tidak ada yang keliru dengan hal itu, karena bisa jadi sisi spiritual yang paling dalam turut terpenuhi bersamaan dengan momen kebersamaan penuh tawa yang datang saat “jalan-jalan bareng” kawan, keluarga, atau sanak-famili. Justru di situlah ibadah paling realistis terlaksana.
Meskipun tidak jarang ziarahnya justru lebih tampak seperti reunian di halaman makam, namun faktanya ibadah terlaksana, pedagang kaki lima laris dagangannya, dan yang tidak kalah atau justru paling penting, refreshing pun tidak lagi menjadi sekedar wacana.
Justru di titik ini lah letak keindahan spiritualitas masyarakat kita. Bukan begitu, kisanak? Wallahu a’lam.
Tag:iat, islam, makna, modernitas, pemikiran, spiritualitas, ushuluddin, ziarah



