
Rekonstruksi Dakwah di Era Digital, FUD UNKAFA Gelar Seminar Sekaligus Sertijab BEM
Berita | UNKAFA – Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (USWAH) Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik sukses menyelenggarakan agenda strategis bertajuk “Seminar Dakwah dan Serah Terima Jabatan (Sertijab) BEM Fakultas Ushuluddin dan Dakwah”. Acara yang mengusung tema “Rekonstruksi Dakwah dalam Lingkup Sosial Masyarakat” ini berlangsung khidmat di Aula Lantai 1 Gedung F UNKAFA pada Selasa (19/05/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa yang berasal dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Sejumlah tokoh penting kampus turut hadir sebagai tamu undangan, di antaranya Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Kaprodi KPI, jajaran dosen Fakultas Uswah, serta perwakilan pengurus DPM dan BEM-UNKAFA.
Acara diawali dengan prosesi serah terima jabatan BEM Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Dalam sambutannya, Dekan FUD UNKAFA, Dr. Maftuh, S.Sos.I., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada segenap panitia yang telah menyukseskan jalannya acara.
Dr. Maftuh menaruh harapan besar bagi estafet kepemimpinan yang baru. Beliau berharap kepengurusan BEM-Fakultas yang baru dilantik dapat membangun kekompakan yang solid dan melahirkan inovasi yang lebih kreatif dalam menjalankan program kerja ke depan.
“Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah harus benar-benar mampu belajar berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Terlebih di zaman kontemporer yang perkembangannya semakin dinamis seperti sekarang ini,” tegas Dr. Maftuh dalam sambutannya.
Memasuki acara inti, Seminar Dakwah menghadirkan narasumber berkompeten, Amalia Rosyadi Putri, S.Kom.I., M.Med.Kom. Sosok yang merupakan CEO AR_Media, Dosen KPI UIT Lirboyo, sekaligus Komisioner KPID Jawa Timur periode 2016-2021 ini membedah tuntas tantangan dakwah kontemporer.
Amalia membuka pemaparannya dengan sebuah pernyataan pemantik yang lugas. Menurutnya, di era hukum sosial saat ini, para praktisi dakwah hanya dihadapkan pada dua pilihan nyata. “Hanya ada dua pilihan dalam dakwah di era sekarang: menjadi dakwah yang relevan, atau siap-siap ditinggalkan,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena sosial di mana dakwah hari ini memang masih didengar, namun tidak selalu mampu mengubah perilaku masyarakat. Meskipun ribuan orang menghadiri ceramah dan kajian setiap harinya, realitasnya hanya sebagian kecil audiens yang benar-benar tergerak, tersentuh, dan berkomitmen untuk berubah.

Lebih lanjut, Amalia menjelaskan bahwa dakwah tidak pernah terjadi di ruang kosong. Proses penyampaian nilai-nilai agama selalu dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti budaya, norma, perkembangan zaman, hingga karakter audiens itu sendiri. Oleh karena itu, apa yang benar secara tekstual belum tentu bisa langsung diterima jika mengabaikan konteks sosialnya.
Sebagai solusi atas tantangan tersebut, ia mendorong perlunya rekonstruksi dakwah melalui perubahan paradigma secara total. Menurutnya, pendekatan dakwah konvensional harus segera bertransformasi, mulai dari gaya komunikasi yang semula terkesan menggurui menjadi pendekatan yang lebih merangkul dan mengajak. Pola penyampaian pun perlu diubah dari komunikasi searah atau monolog menjadi ruang diskusi yang dialogis. Selain itu, sifat dakwah yang kaku harus dilebur menjadi lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, serta menggeser pemikiran yang sekadar normatif menuju pemaparan yang jauh lebih kontekstual dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.
Mantan Komisioner KPID Jatim ini juga memetakan tiga tantangan utama dakwah di era digital yang wajib diantisipasi oleh mahasiswa, dimulai dari fenomena overload informasi yang membuat pesan dakwah rentan tenggelam di tengah banjir pesan harian jika tidak dikemas secara khusus. Selain itu, para dai masa depan harus menghadapi karakter audiens yang semakin kritis dalam memverifikasi dan menilai kebenaran informasi, sekaligus dituntut mampu memenangkan kompetensi konten agar pesan dakwah tidak kalah bersaing dengan konten hiburan yang dikemas jauh lebih menarik dan mudah viral.
Sebagai pesan penutup yang mendalam bagi para calon mubaligh masa depan UNKAFA, Amalia menegaskan bahwa substansi dakwah melampaui sekadar retorika penyampaian.
“Jika dakwah hanya didengar lalu dilupakan, maka itu hanyalah sekadar suara. Dakwah sejati adalah yang mengubah kehidupan; membawa perubahan yang nyata dalam perilaku, sikap, dan kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.



