
Mencari Sketsa Kader Mahasiswa Santri di Rak Kitab Pesantren
- Categories Kolom
- Date 31 July 2026
Ada kegelisahan yang belakangan ini sering mampir ke kepala saya. Kegelisahan itu bukan karena teknologi semakin canggih, bukan pula karena kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak pekerjaan manusia. Kegelisahan saya justru berangkat dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah kitab tipis yang semakin jarang terlihat di ruang-ruang belajar pesantren.
Namanya Idhotun Nasyi'in.
Dahulu, kitab ini seperti kawan akrab para santri. Hampir setiap pesantren mengenalnya. Ia dibaca, diterangkan, dihafalkan, lalu diamalkan. Hari ini, kitab itu masih bertahan di sebagian pesantren salaf yang setia menjaga tradisi turats. Namun di banyak tempat lain, ia perlahan menghilang dari daftar kitab yang dipelajari. Entah dianggap terlalu sederhana, terlalu klasik, atau mungkin kalah menarik dibanding buku-buku motivasi dengan sampul mengilap dan judul yang penuh janji sukses.
Ironis memang. Di saat seminar tentang character building bermunculan di mana-mana, kita justru mulai melupakan kitab yang sejak awal memang ditulis untuk membangun karakter. Kita sibuk menerjemahkan teori-teori pendidikan dari berbagai penjuru dunia, sementara di rak kitab pesantren sendiri telah lama tersimpan sebuah karya yang berbicara tentang keberanian, kejujuran, kerja keras, optimisme, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial.
Yang lebih menarik lagi, Idhotun Nasyi'in tidak lahir di ruang yang tenang. Kitab ini hadir pada masa ketika dunia Islam sedang bergulat dengan kolonialisme, kemunduran, dan kegelisahan mencari jalan kebangkitan. Syaikh Musthafa al-Ghalayaini tidak mengajak generasi muda untuk meratap. Beliau justru mengajak mereka berdiri tegak. Berani maju. Berani berpikir. Berani bekerja. Berani mencintai negerinya. Berani menjadi manusia yang berguna.
Tidak mengherankan jika pendidikan pesantren pada masa kolonial selalu dipandang dengan rasa curiga. Pemerintah Hindia Belanda memahami satu hal yang sangat sederhana: bangsa yang berkarakter jauh lebih sulit dijajah daripada bangsa yang sekadar pandai membaca. Karena itu, pengawasan terhadap guru, madrasah, dan aktivitas pendidikan Islam diperketat melalui berbagai kebijakan kolonial. Yang dikhawatirkan sebenarnya bukan kitabnya, melainkan watak manusia yang lahir dari kitab-kitab itu.
Sebab penjajah tidak pernah takut kepada orang yang banyak hafal. Penjajah hanya takut kepada orang yang memiliki harga diri.
Di situlah saya merasa Idhotun Nasyi'in bukan sekadar kitab akhlak. Ia adalah kitab pembentuk mentalitas, kitab pencerahan bagi generasi muda. Setiap babnya seakan sedang berdialog dengan generasi muda.
Tentang keberanian.
Tentang sifat pengecut.
Tentang kejujuran.
Tentang dusta.
Tentang ikhlas.
Tentang putus asa.
Tentang kemalasan.
Tentang semangat bekerja.
Tentang cinta tanah air.
Tentang persatuan.
Sederhana sekali judul-judulnya. Tidak rumit. Tidak filosofis. Tetapi justru karena kesederhanaannya itulah ia mudah masuk ke dalam hati. Al-Ghalayaini tampaknya memahami bahwa karakter manusia tidak dibangun melalui istilah-istilah yang tinggi, melainkan melalui kebiasaan-kebiasaan yang kecil.
Hari ini, kita hidup pada zaman yang sangat berbeda. Mahasiswa mampu menyelesaikan tugas dengan bantuan kecerdasan buatan. Referensi ilmiah tersedia hanya sejauh sentuhan jari. Dunia seakan mengecil menjadi ukuran layar telepon genggam. Namun ada satu hal yang tidak berubah sejak seratus tahun lalu: manusia tetap membutuhkan karakter.
Teknologi bisa membuat orang lebih cepat.
Tetapi teknologi tidak bisa membuat orang lebih jujur.
Teknologi bisa membuat orang lebih pintar.
Tetapi teknologi tidak bisa membuat orang lebih ikhlas.
Teknologi bahkan bisa membuat seseorang terlihat hebat.
Tetapi tidak ada teknologi yang mampu menggantikan keberanian untuk mengatakan yang benar ketika semua orang memilih diam.
Di sinilah saya melihat tantangan sekaligus peluang bagi Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim pesantren, UNKAFA memiliki kemewahan yang tidak dimiliki banyak kampus lain. Kemewahan itu bukan gedung bertingkat. Bukan laboratorium yang megah. Melainkan warisan intelektual pesantren yang telah teruji melahirkan ulama, pendidik, pejuang, dan pemimpin masyarakat.
Warisan itu bernama turats.
Sayangnya, turats sering kali hanya diposisikan sebagai objek kajian, bukan sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Padahal, jika dibaca dengan cara yang tepat, kitab-kitab klasik justru menawarkan jawaban atas kegelisahan manusia modern.
Karena itu saya membayangkan satu langkah yang sederhana, tetapi menurut saya akan sangat berarti.
Mengapa Idhotun Nasyi'in tidak dijadikan sebagai Mata Kuliah Umum Universitas?
Bukan untuk menambah beban mahasiswa.
Bukan pula sekadar mempertahankan tradisi.
Tetapi untuk memastikan bahwa setiap lulusan UNKAFA membawa fondasi karakter yang sama.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Syari’ah membacanya.
Mahasiswa Dakwah membacanya.
Mahasiswa Fakultas Pendidikan membacanya.
Karena kejujuran tidak mengenal program studi.
Keberanian tidak mengenal fakultas.
Ikhlas tidak dibatasi oleh disiplin ilmu.
Begitu pula amanah dan tanggung jawab.
Tentu, perkuliahannya tidak boleh berhenti pada membaca teks Arab dan menjelaskan makna mufradat. Itu penting, tetapi belum cukup. Yang lebih penting adalah mengajak mahasiswa berdialog dengan setiap tema. Ketika membahas bab "Berani Maju", mahasiswa diajak merancang inovasi. Ketika membahas bab "Jujur", mereka diajak berbicara tentang integritas akademik dan plagiarisme. Ketika membahas bab "Putus Asa", mereka diajak memahami bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses menjadi dewasa.
Karena UNKAFA akan melahirkan kader-kader berkarakter KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Abdullah Faqih Toyyib dan tentu saja berkarakter kuat seperti Syaikhuna KH. Masbuhin Faqih
Dengan cara seperti itu, kitab tidak lagi menjadi benda mati. Ia hidup. Ia berbicara. Ia menemani perjalanan mahasiswa dari semester pertama hingga lulus menjadi sarjana.
Saya percaya, sebuah universitas tidak dikenang karena gedungnya. Gedung suatu hari akan direnovasi. Kurikulum pun akan berganti mengikuti zaman. Bahkan teknologi yang hari ini dianggap mutakhir, beberapa tahun lagi mungkin sudah usang.
Yang akan dikenang adalah manusia-manusia yang dilahirkannya.
Jika UNKAFA kelak dikenal sebagai kampus yang melahirkan lulusan yang santun dalam berbicara, jujur dalam bekerja, berani dalam mengambil keputusan, rendah hati ketika berhasil, serta tangguh ketika gagal, sesungguhnya itulah prestasi terbesar sebuah perguruan tinggi.
Mungkin sudah waktunya kita membuka kembali kitab yang mulai berdebu itu.
Bukan karena kita sedang bernostalgia dengan masa lalu.
Melainkan karena kita sedang menyiapkan masa depan.
Sebab boleh jadi, yang kita perlukan untuk membangun generasi baru bukanlah selalu buku yang baru. Kadang-kadang, yang kita perlukan hanyalah keberanian untuk membaca kembali kitab lama, dengan mata yang baru.
*Ahmad Zainuddin, S.Pd.I., M.Fil.I
You may also like
Menggali Makna Ziarah: Antara Spiritualitas dan Modernitas

