
Merajut Sanad, Menjaga Adab: Refleksi Kuliah Umum Gus Faiz di Kampus UNKAFA
Suasana Aula Darun Nadwah Rushaifah di kompleks Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik, tampak bergemuruh penuh takzim pada Selasa pagi (27/10/2026). Tak kurang dari 1.500 pasang mata memadati ruangan hingga sesak terisi penuh. Mahasiswa Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) dari jenjang S-1, S-2, hingga doktoral (S-3) berbaur akrab bersama para asatiz, alumni, serta masyarakat sekitar demi menyerap hikmah dari figur ulama muda kharismatik.
Pagi itu, mimbar kehormatan menghadirkan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Lc., M.A. Momentum yang dihelat dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tersebut bukan sekadar seremoni serap wawasan belaka. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang penyegaran ruh keilmuan khas pesantren yang menempatkan kesantunan di atas kecerdasan akal.
Kehangatan sambutan telah terasa sejak langkah pertama Gus Faiz menginjakkan kaki di bumi Mambaus Sholihin. Pengasuh pesantren, Romo KH. Masbuhin Faqih, bersama jajaran majelis masyayikh dan keluarga besar pesantren menyambut langsung putra almarhum KH. Syukron Ma’mun tersebut dengan penuh keharuan dan keakraban. Bagi keluarga besar UNKAFA, pertemuan dua trah keilmuan ini seolah meneguhkan kembali akar tradisi pesantren yang kokoh.

Ketua panitia sekaligus dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) UNKAFA, Ustaz Ilyas, mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme luar biasa dari para civitas akademika. “Alhamdulillah, audiens memadati aula hingga terisi penuh. Peserta berbaur jadi satu, mulai dari mahasiswa UNKAFA seluruh jenjang hingga para alumni. Kehadiran Gus Faiz benar-benar menjadi oase dan magnet keilmuan yang dinantikan keluarga besar pesantren,” tutur Ustaz Ilyas di sela-sela kegiatan.
Sebelum Gus Faiz memaparkan pokok-pokok pikirannya, perwakilan Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Agus H. Muhammad Ma’ruf, M.A., mengantarkan jalannya majelis dengan mengurai benang merah sejarah. Ia mengisahkan relasi erat nan bersejarah antara KH. Masbuhin Faqih dan almarhum KH. Syukron Ma’mun semasa menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor.
“Semalam beliau bercerita, almarhum KH. Syukron Ma’mun adalah sosok yang tegas dan teguh prinsip. Beliau bahkan pernah mengajar langsung Al-Walid (KH. Masbuhin Faqih) saat di Gontor dulu. Harapan kami, hubungan keilmuan dan keberkahan antara kedua orang tua kita ini berlanjut kepada anak-anaknya,” tutur Gus Ma’ruf dengan nada bergetar.
Pesan tersebut semakin kontekstual saat Gus Ma’ruf mengapresiasi integritas pemikiran Gus Faiz yang dinilai konsisten berpegang teguh pada manhaj ulama salaf, kendati kiprah dakwah dan intelektualnya telah merambah pentas nasional. Sikap teguh inilah yang dinilai patut menjadi cermin teladan bagi mahasiswa UNKAFA di tengah derasnya arus modernisasi.

Ketika giliran Gus Faiz berbicara, aula seketika larut dalam keheningan yang menyimak. Tokoh muda NU tersebut mengingatkan esensi fundamental seorang penuntut ilmu: ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan seluas mungkin, namun jangan sampai merobohkan sendi-sendi adab dan penghormatan kepada guru. Baginya, kepintaran akal tanpa ketundukan moral hanya akan melahirkan kesombongan intelek.
Sebagai penutup wejangannya, sebuah pesan mendalam terpatri kuat bagi setiap insan santri kampus. Sejauh apa pun langkah kaki mengarungi dunia profesional, baik di panggung pendidikan maupun tata kelola birokrasi pemerintahan, serta setinggi apa pun tangga strata sosial yang berhasil digenggam, identitas santri tidak boleh tanggal. Nilai-nilai kesantrian dan tawaduk harus senantiasa menjadi ruh penggerak di mana pun mahasiswa UNKAFA mengabdi. (Romdlon)



